Jatenpos.com, Rasa kekaguman dan harapan yang bergitu besarnya kepada sesosok Jokowi, membuat beberapa kalangan intelektual menilai ada yang tidak beres dengan pemikiran mereka. Kekaguman yang berlebihan tersebut dikhawatirkan membawa efek yang kurang baik bagi calon pemimpin kedepan.
Lembaga survey bernama Cyrus telah mengadakan survey pada tanggal 21 Agustus 2013, 13 September 2013, 1 Oktober 2013 dan 18 November 2013. Hasil yang diperoleh dari survey model acak (multistage random sampling) tersebut di 204 desa diseluruh Indonesia berupa 66 persen responden memilih Jokowi.
Sedangkan untuk tokoh politik yang lain, didapat hasil 10,4 persen untuk bakrie, Megawati 4,2 persen, Wiranto 11,8 persen, Jusuf Kalla 3 persen dan Prabowo 11,7 persen. Dari hasil tersebut, maka Jokowi memperoleh 28,2 persen selisih lebih tinggi dari tokoh-tokoh politik lainnya.
Dari hasil survey tersebut, Eko David Dafianto selaku Direktur Riset Cyrus Network menilai, "Masyarakat terperangkap di antara realitas dan mitos tentang
seorang pemimpin seperti Jokowi. Pemimpin yang baik dan berprestasi termasuk mantan Walikota
Solo itu tetap membutuhkan kritik. Bahkan, Jokowi juga harus
membuka ruang untuk kritik secara luas" (15/12). Oleh karena itu, masyarakat dinilai mulai tidak rasional.
Eko menambahkan, "Publik harus disadarkan bahwa Jokowi itu tetap manusia biasa, bukan
ratu adil atau tokoh serba bisa yang akan menyelesaikan seluruh
persoalan melalui tangannya. Sembilan dari 10 orang yang mengenal Jokowi, membicarakannya dengan
nada positif. Apapun yang dilekatkan pada Jokowi, akan jadi baik dan
bagus. Jokowi sudah jadi mitos, publik tidak rasional lagi dan
kehilangan objektivitas dalam memberikan penilaian. Apapun yang menjadi
pendapat Jokowi menjadi benar. Siapapun yang mengkritik Jokowi, akan
menjadi musuh bersama (public enemy)".
Pada kesempatan yang sama, Hamdi Muluk ikut memberi komentar, "Saya
khawatir dengan fenomena ratu adil. Sepertinya Jokowi jadi manusia
setengah dewa. Ini capres setengah dewa tidak sehat jangan terjebak
dengan mitos ratu adil. Indonesia memiliki sejarah pemimpin yang dianggap ratu adil
seperti Soekarno dan Soeharto. Itu tidak sehat!.
Selain itu, hamdi juga berkesimpulan bahwa hal ini menunjukkan gagalnya partai-partai lain dalam menandingi kader PDIP. "Itu kegagalan
partai karena yang lain nama-nama lama", tandasnya. Efek inilah yang nantinya membuat pemilu 2014 menjadi tidak berselera karena tanpa pesaing berarti dan membuat orang menjadi ogah-ogahan selain memilih Jokowi. (Sandi/Kon)

sekali jokowi ya jokowi jangan ngeyel titik...
BalasHapusahaha yg jelas, jokowi lebih baik dr pd anda.
BalasHapusapa anda pikir kami tdk menyadari kl jokowi pnya kekurangan? sadar sekali tetapi kami akan mengawal spy kekurangan ini semakin minimal sehingga optimalitas kerja dia utk indonesia terwujud. Hidup jokowi
BalasHapus"Publik harus disadarkan bahwa Jokowi itu tetap manusia biasa, bukan ratu adil atau tokoh serba bisa yang akan menyelesaikan seluruh persoalan melalui tangannya"
BalasHapusSetidaknya jokowi sudah menunjukan bahwa gubernur2 sebelumnya ternyata pada saat bertugas jadi gubernur tidak melakukan apa2.....tidak ada perubahan, hanya janji2 saat kampanye.....bahkan beberapa pejabat pun terlihat betapa korupsinya dan maruknya.
Masyarakat lebih memilih bukti dan realita...bukan janji saja. Jokowi membuktikannya!