Jatenpos.com, Roda pemerintahan itu seperti aliran air di gorong-gorong bawah tanah. Awalnya baik dan lancar, sayang saat dialirkan keluar ada saja cabang yang tersumbat, entah oleh sampah atau sudah rusak. Inilah kenyataan pahit yang harus Jokowi terima terkait jalur koordinasi kepada para bawahannya.
Kondisi serupa tampaknya juga tengah dialami oleh Gubernur Jakarta. Segala bentuk kebijakan yang pada awalnya memang telah merubah wajah ibukota menjadi lebih bersinar kini harus kembali meredup. Sikap tidak konsisten dari para bawahan membuat pria murah senyum itu harus kecewa dan jengkel.
Tengok saja kebijakan penertiban parkir liar di ibukota. Pada awalnya berbagai langkah dilakukan dinas perhubungan untuk menertibkan para pengguna kendaraan yang 'nakal' seperti pencabutan pentil, penggembokan roda mobil hingga penjaringan kendaraan bermotor. Namun kini akibat pengawasan petugas yang semakin kendor membuat parkir liar kembali merajalela.
Lalu kebijakan sterilisasi busway. Kebijakan yang dilakukan dengan menggandeng polisi dengan denda sebesar Rp 500 ribu bagi pemotor dan Rp 1 juta bagi mobil yang melanggar, awalnya berjalan dengan baik.
Namun karena minimnya pengawasan petugas Dishub dan kepolisian membuat jalur bus berlajur khusus ini selalu diserobot kendaraan umum. Jalur busway Ragunan-Dukuh atas contohnya, jalur yang pernah steril itu kembali dipenuhi pemotor.
Tampaknya sehebat apapun kebijakan yang dibuat jika tidak ada koordinasi antara atasan dan bawahan akan sama saja hasilnya. Selain itu, belum adanya rasa tanggung jawab membuat semakin sulit menerapkan kebijakan seperti seharusnya. (Ambar)
Selasa, 11 Februari 2014 | 14.50
Kejengkelan Jokowi Kepada Para Bawahannya
Kunjungi : m.jatenpos.com langsung dari Ponsel Anda
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar