Kamis, 21 November 2013 | 08.01

Pembaca Tercepat Didunia '1 halaman Hanya 1 Detik'

Berapa kecepatan membaca Anda? 100 kata per menit? Setengah halaman per 2 menit? Itu bukan apa-apa dibanding apa yang bisa dilakukan Maria Teresa F Calderon. Dia bisa membaca 1 halaman per detik, plus memahaminya. Pada 1969, saat berusia 15 tahun, namanya tercatat di Britannica Encyclopedia dan Guinness World Records sebagai pembaca tercepat di dunia. 44 tahun berlalu, belum ada manusia yang sanggup memecahkan rekornya.
RUANG pertemuan utama di Hotel Manila tampak riuh. Siang itu, sekitar sebulan lalu, hotel ikonik yang berdiri sejak 1912 di pusat kota Metro Manila, Filipina itu, menjadi tempat acara berkumpulnya akademisi dari Arellano University.

Sekitar 300 orang tampak asik dengan aktivitasnya masing-masing. Sebagian sedang makan siang di meja-meja bundar, sebagian lain tampak berdiri sambil berbincang-bincang. Alunan musik jazz, seakan bersahutan dengan suara perbincangan dan derai tawa manusia.

Di salah satu meja bundar, seorang perempuan terlihat serius membaca sebuah buku. Denting suara sendok dan garpu saat beradu dengan piring kaca, seolah tak mampu mengusiknya. Anehnya, setiap beberapa detik, jarinya lincah menyibak lembar demi lembar buku itu, seakan dia hanya melihat sekilas saja. ''Finish,'' ujarnya lantas tersenyum lebar.

Perempuan energik dan murah senyum berusia 59 tahun itu adalah Maria Teresa Calderon, Dekan Pendidikan Pascasarjana Arellano University, Filipina.

Aktivitasnya menyibak lembar demi lembar sebuah buku jurnal penelitian itu bukan sekadar iseng untuk mengisi waktu usai makan siang, namun jurnal itu benar-benar dibacanya. Bahkan, tidak sekedar dibaca, tapi juga dipahaminya.

Bagaimana mungkin? Dengan kemampuan photographic memory-nya yang luar biasa, Maria memang bisa melakukan hal yang terlihat mustahil itu. Kemampuannya itu memungkinkannya memotret satu lembar buku dalam hitungan detik dengan melihatnya sekilas saja, lantas disimpan di memorinya. ''Ini anugerah Tuhan,'' katanya.

Bagaimana kisahnya? Maria lahir dari keluarga berada di Filipina. Ayahnya, Jose D Calderon, adalah seorang pengusaha di bisnis migas dan tambang emas. Sedangkan Belen Calderon, ibunya, adalah seorang sejarahwan dan politikus di Filipina.

Pada tahun 1969, pada usia 15 tahun, Maria yang merupakan anak ke-4 dari 6 bersaudara, diajak kakak tertuanya ke Amerika Serikat (AS). Saat itu, di beberapa universitas di AS sedang ada tren kursus membaca cepat (speed reading).

Maria pun mengikuti kursus di Northwestern University, Chicago, AS. Saat pertama masuk, kecepatan membacanya hanya 293 kata per menit dengan daya serap atau pemahaman 80 persen. Namun, bakat besarnya membuat kemampuannya melesat hingga 50.000 kata per menit dengan pemahaman 100 persen.

Misalnya, ketika disodori buku tentang golf, Maria bisa membacanya dengan sangat cepat. Setelah itu, dia bisa menjelaskan detail aturan permainan golf yang ada dalam buku tersebut.

Setelah kursus selama enam bulan di bawah bimbingan Dr Florence Schale, seorang pakar speed reading di AS, Maria pun mencapai kemampuan terbaiknya.

Saat diuji di hadapan beberapa guru besar Northwestern University, gadis berusia 15 tahun itu mampu mencatat rekor 80.000 kata per menit dan 1 halaman per detik.

Kecepatan itu bisa dicapai dengan kondisi yang kondusif di ruangan yang sangat senyap, tanpa gangguan suara.

Prestasinya itulah yang lantas dicatat sebagai rekor dunia di Britannica Encyclopedia dan Guinness World Records. Sejak itu, sudah tidak terhitung lagi banyaknya orang yang mencoba memecahkan rekor itu.

Di AS, dari berbagai lomba speed reading yang diadakan universitas-universitas, rekor terbaik dari beberapa peserta ada di kisaran 20.000 – 30.000 kata per menit.

''Jadi, sampai sekarang, saya masih pemegang rekor dunia,'' kata Maria sambil tersenyum.

Maria mengakui, kemampuan photographic memory yang dimilikinya merupakan anugerah Tuhan. Beberapa tokoh dunia juga dikenal memiliki kemampuan istimewa ini.

Misalnya, John Stuart Mill, ekonom dan filsuf Inggris pada abad 19, diketahui mampu membaca 37.000 kata per menit. Sedangkan Presiden legendaris ke-26 AS, Theodore Roosevelt, dikenal mampu membaca 1 halaman buku dalam sekejap. ''Tapi, semua orang bisa juga mempelajari speed reading ini,'' kata Maria.

Bagaimana caranya? Maria pun memberi beberapa tips. Pertama, kata dia, saat membaca buku, koran, majalah, atau apa saja, tidak usah menggerakkan bibir, atau membaca di dalam hati saja. Kedua, kepala tidak usah bergerak ke kanan-kiri, cukup mata saja yang bergerak. Ke tiga, usahakan mata langsung melihat 3-5 kata sekaligus, atau jika membaca koran yang disusun dalam kolom-kolom, mata langsung melihat 1 kolom sekaligus.

Tips lainnya adalah posisi badan saat membaca harus nyaman, jarak mata dan bahan bacaan juga harus diatur senyaman mungkin, serta pencahayaan harus bagus.

''Terakhir, harus konsentrasi. Itu syarat utama. Sebab, percuma saja kita membaca cepat kalau tidak mengerti isinya,'' jelasnya.

Selain itu, Maria mengatakan ada beberapa alat atau instrumen yang bisa digunakan untuk melatih kecepatan membaca seseorang, mulai alat seperti printer dengan kertas yang gerakannya bisa diatur sehingga kita terlatih untuk mengikuti kecepatan kertas itu, atau ada juga software yang bisa di-install dalam komputer, maupun alat sederhana seperti kartu nama yang dilubangi tengahnya. Lubang 1 garis itulah yang digunakan untuk membaca.

Maria mengakui, tidak semua orang akan bisa membaca secepat dirinya. Namun, dia meyakinkan bahwa jika diasah dan dilatih terus menerus, kemampuan baca seseorang yang rata-rata 250 kata per menit, bisa terus bertambah.

Sejak dinobatkan sebagai pemegang rekor pembaca tercepat di dunia pada 1969, Maria sudah ratusan atau bahkan ribuan kali diundang untuk berbagi pengalaman dan memberikan pelatihan.

Para peserta pelatihannya pun beragam, mulai pejabat tinggi negara seperti Presiden Filipina Ferdinand Marcos (1965-1986), top eksekutif berbagai perusahaan, dosen, mahasiswa, pelajar, termasuk para karyawan perusahaan.

Selain di Filipina, Maria juga memberikan pelatihan di AS, Hong Kong, Singapura, Indonesia, dan beberapa negara lainnya.

Di Indonesia, sejak 1980-an, Maria sudah diundang oleh beberapa perusahaan migas seperti Pertamina, Caltex (kini Chevron), serta beberapa perusahaan perbankan untuk memberikan pelatihan speed reading pada jajaran manajemen maupun karyawannya.

Tentu saja, Maria punya cerita menarik dengan kemampuan photographic memory-nya. Saking cepatnya dia membaca, dia sampai kesulitan mencari buku baru di perpustakaan kampus karena semua buku yang digemarinya sudah habis dibaca. Mulai dari psikologi, filosofi, antropologi, edukasi, hingga teologi.

Karena itu, Maria pun lantas sering pergi ke toko buku. Ketika mengantar teman atau keluarganya berbelanja di toko buku, sambil menunggu mereka berbelanja, Maria lantas memilih buku yang disukainya.

Dalam hitungan beberapa menit saja, isi satu buku sudah habis dibacanya. Setelah itu, dia bisa mengambil buku lain dan menyelesaikan membacanya dalam beberapa menit.

''Jadi, saya tidak perlu membeli bukunya, karena sudah selesai saya baca di situ juga,'' ujarnya lantas terkekeh.

Sumber : Kaltimpost
Share this article :
Kunjungi : m.jatenpos.com langsung dari Ponsel Anda

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013 Jatenpos.com - All Rights Reserved